Pintu Taubat Belum Tertutup!

Pintu Taubat Belum Tertutup!

Penulis Ustadz H. Ade Akfan Miladi, Lc - Pengajar Quran Learning Centre

Setiap  malam minggu di kampung bojong, rutin diadakan pengajian. Malam ini seorang laki-laki dengan umur sekitar 50 tahunan, biasa dipanggil Mahmud ikut hadir dalam pengajian itu. Mahmud yang masa mudanya biasa nongkrong dipasar dengan pakaian preman dan selalu mencopet dompet orang yang mau belanja di pasar. “Tumben yah, si Mahmud ikut pengajian”?, tanya Nurdin pada Supri. “Mungkin dia sudah tobat din”, kata Supri. Supri dan Nurdin termasuk sering hadir dalam jamaah pengajian. Mereka berdua sedang asyik ngobrol sebelum acara pengajian itu dimulai.

Di sela-sela kesempatan bertanya yang diberikan oleh sang Kiyai pada Jamaah, Mahmud dengan suara sember bertanya pada Kiyai Anwar yang biasa mengisi pengajian rutinan itu. “Pak Yai, saya dulu seorang yang selalu berbuat dosa, shalat selalu saya tinggalkan, di saat bulan Ramadhan tidak pernah melakukan puasa, terlebih zakat yang harus dikeluarkan malah saya mencopet atau menodong harta orang lain. Apakah saya masih ada kesempatan bertaubat pa Yai ?”

Dengan suara kharismatiknya Yai Anwar menjawab: “Setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan dan dosa, ada yang banyak melakukan kesalahannya, ada yang sedikit melakukan kesalahan. Sebab menurut pepatah manusia itu tempatnya salah dan lupa. Hanya Nabi Muhammad Saw lah, manusia di dunia ini yang di jaga oleh Allah dari kesalahan dan dosa.  Allah melarang kepada kita untuk putus asa dari kasih sayang-Nya dan menyekutukan-Nya”.

Allah berfirman dalam al-Qur’an: “katakanlah!Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian putus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (az-Zumar: 53).

Yai Anwar melanjutkan jawabannya: “Selagi kita masih tidak menyekutukan Allah, tidak menganggap ada kekuatan lain yang menandingi kekuatan Allah, tidak ada Tuhan selain Allah, Allah pasti menerima taubat kita. Bahkan Allah memerintahkan kita untuk mempercepat taubat, memohon ampun terhadap kesalahan yang selalu kita lakukan. Ketika kita sudah bertaubat, kita diperintahkan untuk istiqomah tetap bertakwa kepada-Nya. Sehingga dipersiapkan surga yang luasnya lebih luas dari bumi dan langit.” 

Dalam al-Qur’an Allah berfirman:  “Dan bersegeralah kamu memohon ampunan kepada Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa” (ali Imron: 133).   Allah berfirman dalam Hadits Qudsi : “Wahai anak Adam selama engkau masih berdoa kepada-Ku dan berharap kepada-Ku, Aku ampuni engkau apa pun yang datang darimu dan aku tidak peduli. Wahai anak Adam walaupun dosa-dosamu mencapai batas langit kemudian engkau meminta ampun kepada-Ku, Aku akan ampuni engkau dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, jika engkau mendatangi-Ku dengan sepenuh bumi dosa dan engkau tidak menyekutukan-Ku, maka Aku akan menemuimu dengan sepenuh itu pula ampunan.” (HR. Tirmidzi dan di Hasankan oleh beliau).

Lalu Yai Anwar melanjutkan pembicaraannya: “Namun jika kematian mendatangi kita dan kita belum sempat bertaubat, maka janganlah kita salahkan kecuali diri kita sendiri. Jika Allah mengazab, Allah mengazab dengan keadilan-Nya. Dan jika kita merasakan kesengsaraan di padang Mahsyar dan tidak mendapatkan naungan Allah -pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya- maka itu adalah akibat perbuatan kita sendiri.” Nauzubillah minzalik jika itu menimpa kita. Allah berfirman: “Janganlah kalian bertengkar di hadapan-Ku, padahal sesungguhnya Aku dulu telah memberikan ancaman kepada kalian. Keputusan di sisi-Ku tidak dapat diubah, dan Aku sama sekali tidak berbuat dhalim (menganiaya) terhadap hamba-hamba-Ku.” (Qaf: 28-29)

“Allah telah menurunkan kitab-kitab-Nya dan mengutus para Rasul-Nya yang berguna sebagai memperingatkan manusia dengan kematian, Allah telah memperingatkan untuk bertaubat sebelum ajalnya tiba. Dan Allah telah mewasiatkan kepada kita untuk bertaqwa kepada-Nya dan jangan sampai kita mati kecuali dalam keadaan bertaqwa.” Begitu Yai Anwar menambahkan jawabannya.

Lalu Yai Anwar mengakhiri jawabannya dengan menjawab: “Kebaikan dan rahmat Allah telah dicurahkan, jalan dan rambu-rambu telah digariskan. Apa yang bermanfaat bagi mereka dan yang madharat bagi mereka telah Allah jelaskan. Maka barangsiapa yang menghendaki kebaikan ikutilah jalan dan rambu-rambu itu. Sedangkan barangsiapa yang menolaknya, berarti enggan untuk mendapatkan kebaikan yang kekal dan memilih kebinasaan.”

Mahmud bertanya kembali. “Adakah syarat-syarat yang harus dilakukan ketika seseorang mau bertaubat”?, ujar Mahmud.

“Paling tidak ada 5 syarat yang harus dilakukan oleh seseorang yang mau bertaubat”, ungkap Yai Anwar. Diantaranya: Pertama, meninggalkan seluruhnya dosa-dosa yang terdahulu. Kedua, bertekad tidak mengulangi lagi perbuatan dosa-dosa yang diperbuat. Ketiga, mengakui dengan sepenuh hati terhadap perbuatan dosa yang telah dilakukan. Keempat, jika dosa itu terhadap sesama manusia, maka harus memohon kerido’an dan keikhlasan dari manusia itu, jika mereka telah wafat minta maaflah pada ahli warisnya, kalau memang sulit, do’akanlah semoga dosa-dosanya diampuni oleh Allah Swt. Kelima, memohon ampun dengan beristighfar kepada Allah. Rasul Saw yang sama sekali tidak memiliki dosa saja selalu beristighfar setiap harinya seratus kali.”

“Akhirnya, mudah-mudahan kita semua bisa menginstropeksi diri bagi diri kita sendiri, sehingga kita selalu memohon ampunan kepada Allah SWT, sehingga kita termasuk hamba-hamba-Nya yang mau bertaubat”. Yai Anwar mengakhiri jawabannya. Hanya Allah SWT yang Maha Mengetahui.