JADI, HIDUP ITU (SEHARUSNYA) INDAH

JADI, HIDUP ITU (SEHARUSNYA) INDAH

Penulis Ustadz Andi Rahman, SSI, MA. - Pengajar Quran Learning Centre

Alkisah ada seorang janda tua hidup di sebuah desa di pinggiran kota. Ia memiliki dua anak yang tinggal bersamanya. Anak sulung bekerja sebagai penjual payung dan yang bungsu membuka jasa usaha pencucian pakaian (laundry). Keduanya telah berkeluarga.

Tiap membuka jendela di pagi hari, ibu tua ini selalu nampak murung. Raut wajahnya menyiratkan kesedihan dan kegalauan. Hal ini tidak luput dari perhatian para tetangganya.

Rasa penasaran memberanikan salah seorang tetangganya yang baik untuk menyapa dan menanyakan keadaannya di suatu sore, "Tiap hari saya lihat Anda selalu sedih dan nampak murung, ada apa gerangan kiranya?" tanya si tetangga setelah berbasa-basi secukupnya.

"Tiap kali aku membuka jendela dan kulihat cuaca cerah, aku sedih karena teringat putra sulungku yang menjual payung" jawab si janda. "Bagaimana mungkin ia dapat menghidupi diri dan keluarganya kalau hujan tidak turun?! Payung dagangannya tentu tidak laku terjual" Si ibu lalu menambahi, "Sedangkan bila kulihat cuaca mendung dan turun hujan, aku teringat putra bungsuku yang membuka usaha jasa pencucian pakaian. Bagaimana mungkin ia dapat menafkahi diri dan keluarganya kalau jemurannya tidak kering?!"

Dengan tersenyum, tetangganya berkata, "Kalau cuaca cerah dan matahari bersinar, seharusnya Anda mengingat si bungsu yang membuka jasa binatu, cuciannya tentu akan lekas kering dan ia pasti dapat menafkahi diri dan keluarganya. Sementara jika Anda mendapati cuaca mendung dan turun hujan, hendaknya Anda mengingat si sulung yang menjual payung, jualannya pasti laris dan ia pun dapat menghidupi keluarganya."

Keesokan hari dan seterusnya, setiap kali si janda membuka jendela dan menatap matahari pagi, ia terlihat menyunggingkan senyum dan nampak bahagia.

Karena Wanita, Patut dicinta