Menata Niat

Menata Niat

Penulis Ustadz H. Ade Akfan Miladi, Lc - Pengajar Quran Learning Centre

“Sesungguhnya setiap amal perbuatan tergantung pada niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) sesuai dengan niatnya. Barangsiapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya karena urusan dunia yang ingin digapainya atau karena seorang wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya sesuai dengan apa yang diniatkannya tersebut”
(HR. al-Bukhāri dan Muslim)

Nilai kualitas ibadah tidak hanya dipandang dari bentuk banyak atau sedikitnya pelaksanaan. Shalat yang berakaat-rakaat, haji yang berulang-ulang, bacaan al-Qur’an yang berkali-kali akan menjadi tidak bernilai ketika salah dalam niat. Mungkin tidak disadari ibadah yang telah dilaksanakan selama ini tidak berpengaruh dalam perilaku kehidupan kita, karena niatnya hanya ingin di pandang orang lain. Persoalan niat tidak terlepas dengan pengaturan hati, terkadang mulut yang berbicara tidak sesuai dengan kata hati. Ketika mulut berkata : “tidak, tidak, perilaku ini bukan karena ingin dipandang atau diagungkan orang lain”. Namun ketika dalam hatinya berkata lain, hatinya terlintas keinginan untuk dipandang orang lain. Maka saat itulah perbuatannya terjangkit penyakit riya. Agama Islam meyakini manusia pasti mengalami dua kehidupan yaitu duniawi dan akhirat (ukhrowi), kecuali ada orang-orang di luar agama Islam yang hanya meyakini kehidupan ini hanya di dunia saja. Tidak ada manusia yang menginginkan dari dua kehidupannya itu mengalami kerugian maupun kejelekan. Walaupun pada kenyataannya akan ada manusia yang hanya beruntung di dunia saja tidak di akhirat, atau beruntung kedua-duanya di dunia dan di akhirat. Kita selalu dengar dalam setiap do’a terlintas “ Rabbanaa Aatinaa Fiddunya Hasanah Wa fil Akhiroti hasanah waqinaa ‘azabannaar” (Ya Allah Tuhan kami berikanlah kebaikan kepada kami dalam hidup di dunia dan di akhirat juga ). Dalam al-Qur’an juga tersirat: “Dan diantara mereka ada orang-orang yang berkata (memohon) ya Tuhan kami berikanlah kebaikan kepada kami dalam hidup di dunia dan di akhirat” (Q.S. al-Baqoroh: 109) Lalu bagaimana agar bisa berusaha hidup ini bahagia di dunia dan di akhirat. Pertama kali yang di tata adalah niat dalam menyelami segala aktifitas. Tentu saja aktivitas yang dijalankan itu tidak melanggar aturan-aturan yang ada dalam agama Islam. Sebab perbuatan baik yang berkaitan dengan peri kehidupan atau interaksi sesama manusia dinilai menjadi baik ketika perbuatan itu di awali dengan niat yang baik sehingga mengandung nilai ibdah, namun sebaliknya perbuatan baik bisa menjadi jelek dan tidak mengandung nilai ibadah ketika perbuatan itu diawali dengan niat yang jelek. Sholat, Puasa, Haji, Umroh, Sedekah, silaturahmi atau perbuatan baik lainnya akan menjadi tidak bernilai di sisi Allah ketika pelaksanaannya diawali dengan niat ingin dipuji orang lain atau diawali dengan niat yang tidak terpuji. Tapi perbuatan itu akan bernilai di sisi Allah swt dan akan berpengaruh pada sikap, prilaku kehidupan manusia ketika pelaksanaannya diawali dengan niat karena Allah swt. Wallahua’alam