Manusia dalam kebaikan atau keburukan?

Manusia dalam kebaikan atau keburukan?

Penulis Ustadz H. Ade Akfan Miladi, Lc - Pengajar Quran Learning Centre (QLC Kids)

Setelahnya Allah menciptakan langit, bumi dan segala isinya. Allah memanggil Malaikat, memberitahukan keinginan-Nya menciptakan makhluk yang akan mengembangkan bumi dan segala isinya: “ Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: "Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang pemimpin di muka bumi." (Q.S. al-Baqoroh: 30)

Tetapi Malaikat bertanya kembali kepada Allah, tentang kenapa Allah mau menciptakan makhluk selain Malaikat untuk mengembangkan bumi: “mereka Malikat berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu, orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah" (Q.S. al-Baqoroh: 30)

Kenapa Malaikat sudah mengatakan, bahwasannya makhluk yang akan diciptakan oleh Allah itu yang akan membuat kerusakan dan menumpahkan darah di muka bumi? Seolah-olah Malaikat mengetahui kejadian yang akan terjadi atau Malaikat sudah memprediksi, bahwasannya Manusia yaitu Nabi Adam dan keturunannya, akan melakukan kerusakan. Karena Malaikat memprediksi dari kejadian kehidupan yang telah terjadi sebelumnya, yaitu pada makhluk yang bernama Jin. Sebab Jin diciptakan sebelum diciptakannya manusia.“Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas”.(Q.S. al-Hijr: 27)

Rupanya merasa eksistensinya tergeser oleh makhluk ciptaan yang baru sebagai pemimpin di muka bumi. Malaikat sangat terkejut dengan informasi yang diperoleh langsung dari Allah. Sesuai  Firman Allah, Malaikat mengatakan: “Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?”.

Allah mengatakan kepada Malaikat sebagai pemilik Hak Preogratif-Nya: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." (Q.S. al-Baqoroh: 30)

Bahwasannya pengetahuan Malaikat yang tergolong makhluk hanya mengetahui sebatas makhluk yang diciptakan saja. Sedangkan pengetahuan Allah tidak ada batasannya. Akan tetapi ketika Malaikat bertanya kenapa Allah menciptakan Adam yang diutus ke bumi, Malaikat membeberkan secara nyata atau petanyaan yang tersembunyi? Tentu saja, baik pertanyaan yang tersembunyi terlebih yang nyata Allah Mengetahui semua. Karena Allah Maha Mengetahui yang samar (as-Siir) ataupun yang tersembunyi (al-Akhfaa). Apa yang dimaksud dengan as-Siir  dan al-Akhfaa ? Imam as-Sya’rowi dalam tafsirnya mengatakan: as-Siir yaitu sesuatu yang disamarkan terhadap yang lain. Sedangkan al-Akhfaa yaitu di dalam hati tidak ditampakkan sama sekaili terhadap seorang pun. Maka al-Akhfaa lebih tersembunyi dari as-Siir yang samar. Tidak ada yang mengetahui kecuali Allah. Firman Allah dalam surat al-Baqarah ayat 30 ini, sedang menunjukkan kaidah hakikat. Bahwa pada hakikatnya hanya Allah yang Maha Mengetahui sedangkan makhluk tidak mengetahui.

Sebagai manusia saat ini yang merupakan keturunan Adam. Kalau saja mau berfikir dari ayat diatas, tentu saja harus merasa malu. Dengan ungkapan Malaikat yang telah bertanya kepada Allah, keturunan Adam yang akan berbuat kerusakan dan saling membunuh di muka bumi. Ternyata saat ini tidak sedikit manusia yang saling membunuh satu dengan lainnya, sesama saudara semuslim, sesama saudara kandung, sesama satu tanah air. Karena dalam jiwa manusia memiliki dua sifat, kebaikan yang hanya dimiliki Malaikat dan sifat keburukan yang hanya dimiliki oleh Iblis.

Tentu saja Malaikat mengatakan hal itu kepada Allah, karena mereka melihat contoh sebelumnya ang terjadi pada diri Iblis. Ketika kerusakan, saling membunuh, perebutan kekuasaan terjadi saat ini. Janganlah menanyakan kepada Allah kenapa hal ini terjadi? Karena sifat buruk yang dimiliki manusia lebih dominan dimunculkannya ketimbang sifat kebaikan yang juga dimilikinya. Manusia yang mengedepankan sifat kebaikannya menghiasai kehidupannya penuh dengan ketakwaan, bisa jadi mereka lebih baik dari pada Malaikat. Dengan demikian apa yang kita akan pilih sebagai manusia, keduanya ada dalam diri kita. Manakah yang lebih dominan ditampakkan oleh kita semua, itu semua tergantung kita?   

“Sesungguhnya Allah tidak merobah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, Maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia”. (Q.S. ar-Ra’ad: 11)