Berhaji Itu Lillah Ta’ala

Berhaji Itu Lillah Ta’ala

Penulis Ustadz Andi Rahman, SSI, MA. - Pengajar Quran Learning Centre

Rasulullah bersabda, “Islam didirikan atas lima (dasar); Persaksian bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad merupakan Rasullah, melaksanakan shalat, menunaikan zakat, berhaji, dan berpuasa di bulan Ramadhan”. [muttafaq ’alaih dari Ibn Umar]

Dalam al-Qur’an, hanya ibadah haji yang perintahnya diawali dan diakhiri dengan kata “lillah” (hanya karena Allah), yang menyiratkan kewajiban ikhlas dalam pelaksanaannya. Hal ini termaktub dalam al-Qur`an Surat Alu Imran ayat 97, “…Dan karena Allah (lillah), haji wajib atas manusia, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah…”. Kemudian dalam al-Qur`an Surat al-Baqarah ayat 196, “Dan sempurnakanlah ibadah haji dan `umrah karena Allah (lillah)…”

Faktanya adalah bahwa haji memang seringkali dilakukan karena pamrih duniawi. Dalam sebuah hadis disebutkan, “Akan datang masa, di mana kaum kaya dari umatku beribadah haji untuk bertamasya, kaum menengah mereka beribadah haji untuk berniaga (kepentingan bisnis), kaum faqir mereka beribadah haji untuk meminta-minta, dan kaum terpelajar mereka berhaji untuk pamer dan riya” [HR. al-Daylamy dari Anas bin Malik]

Masa itu sudah datang. Banyak orang kaya menganggap haji dan umrah sebagai liburan selayaknya pergi ke Disneyland atau pantai puket di Thailand. Mereka berhaji tanpa serius mempelajari manasiknya, memahami makna dan hikmah haji, kemudian berniat untuk tetap melakukan ”rutinitas” maksiat selepas ibadah haji. Belakangan malah ada trend orang-orang menikah di depan Ka’bah, dengan membawa rombongan infotaintmen untuk meliputnya, dan beberapa bulan kemudian mereka bercerai.

Ada juga yang melihat haji dan umrah sebagai peluang bisnis. Travel haji/umrah ada di setiap kota dengan agen cabangnya di setiap kecamatan. Diiklankan di koran dan televisi, dengan mengajak artis dan selebritis sebagai daya tariknya. Alih-alih niat membantu jamaah, petugas travel malah mengubah haji dari ibadah menjadi ladang rupiah. Seharusnya mereka menjaga niat untuk membantu jamaah agar apa yang dilakukannya tetap diganjar dengan pahala.

Ketika banyak imigran datang untuk mengemis di sekitar situs-situs haji, utamanya di Masjidil Haram, kaum intelektual dan politisi malah berhaji dan umrah untuk melakukan pencitraan. Sebelum mengikuti pilkada dan pileg, mereka pergi umrah. Entah apa doa yang mereka panjatkan di depan Ka’bah. Padahal, kita bisa berdoa di rumah kita sendiri, atau di mushala dan masjid terdekat, kapan saja, tanpa harus membayar visa dan tiket pesawat ke Saudi Arabia.

Mereka yang beribadah haji, akan mendapatkan balasan sesuai dengan niat dan keikhlasannya. Ikhlas berarti beramal semata-mata karena Allah. Ketika amal ibadah tidak berangkat dari keikhlasan hati, maka orientasi duniawi yang melatarbelakangi semua ibadah, termasuk ibadah haji tentunya, akan menjadi balasan bagi amalnya. Sementara itu, Allah yang tidak ‘menjadi tujuan dari amalnya, tentu tidak menyediakan balasan apa-apa atas ibadah tersebut. Allah A’lam.