Kerelaan Berkorban

Kerelaan Berkorban

Penulis: Ustadz Wildan Fathul Ulum, Pengajar Quran Learning Centre / QLC Kids


Pada suatu hari seorang pemuda berjalan-jalan disekitar sebuah kebun, didapatinya disana suatu pemandangan yang menurutnya janggal dan tidak seharusnya dilakukan. Terlihat olehnya seorang kakek sedang menanam bibit pohon yang masa tumbuh pohon tersebut membutuhkan waktu yang lama. Maka pemuda inipun mendekati sang kakek seraya menyapa kemudian berkata “wahai kakek, bukan sekarang waktu yang tepat bagimu untuk menanam pohon itu, karena pohon itu memerlukan waktu tumbuh yang lama, sedangkan umurmu sudah tidak muda lagi, apa mungkin engkau akan merasakan manisnya buah dari pohon tersebut?”. Mendengar kata-kata pemuda ini sang kakek tersenyum lalu kemudian berkata “ wahai anak muda, orang-orang terdahulu telah menanam pohon sehingga kita bisa menikmati manisnya buah dari pohon itu, dan sekarang saya menanam pohon ini bukan untuk saya nikmati sendiri, tapi untuk generasi keturunan setelah saya.”

Dialog diatas menjelaskan pada kita tentang “indahnya pengorbanan” yang selama ini mungkin sebagian besar dari kita memaknai kata pengorbanan sebagai sesuatu yang menakutkan dan cenderung dihindari, padahal pengorbanan adalah suatu keniscayaan dalam mengarungi kehidupan ini. 

Untuk mencapai satu cita-cita yang besar tentu besar pula tantangan dan ujian yang dihadapi, dan semua cita-cita yang besar maka besar pula pengeorbanan yang diminta. Sejarah menceritakan tentang “indahnya pengorbanan” ini melalui bapak para Nabi dan Rosul, Nabi Ibrohim AS. Beliau telah ditentang oleh kaumnya sendiri, bahkan ayahnya sendiri yang membuat dan menyembah berhala. Beliau harus dibakar dan harus meninggalkan kampong halamannya negeri Babil ke negeri Mesir demi mempertahankan keyakinannya menegakkan tauhid. Ujian yang paling besar adalah ketika sampai berumur lanjut dan mendapatkan putra yang diharapkan, Allah mengujinya dengan perintah menyembelih putra yang dicintainya itu.

 

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيُ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى. قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِيْ إِنْ شَاءَ اللهُ مِنَ الصَّابِرِيْنَ (الصفات: 102)

 

Maka tatkala anak itu telah sampai pada masa sanggup berusaha bersama Ibrahim, Ibrahim berkata: Hai anakku, sesungguhnya aku telah bermimpi aku harus menyembelihmu, maka bagaimana pendapatmu? Ia menjawab “wahai bapakku kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar. (QS. As Shafat 102)

 

Ibrahimlah orang pertama yang berjuang dan bekerja keras membangun negeri yang tandus (Mekah) yang tiada tumbuh-tumbuhan itu menjadi negeri yang makmur, seperti yang kita lihat sekarang.

 

رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرَ ذِيْ زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيْمُوالصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِيْ إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُوْنَ (إبراهيم: 37)

Demikianlah doa nabi Ibrahim ketika itu, yang artinya: Ya tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tiada mempunyai tumbuhan itu di dekat rumah engkau. Yaitu Baitullah yang dimulyakan (yang demikian itu) ya tuhan kami, agar mereka mendirikan sholat, maka jadikanlah sebagian dari hati manusia cenderung tertarik kepada mereka, dan berikan rizki kepada mereka dari berbagai buah-buahan agar mereka bersyukur (QS. Ibrahim: 37)

 

Inilah profil manusia agung, profil seorang pejuang sejati, kepribadiannya yang agung patut kita teladani dan dapat kita aktualisasikan pada kehidupan sekarang yang nyaris semuanya diukur dengan materi dan perebutan kepentingan pribadi, kelompok, partai, suku dan sebagainya.

 

Pastinya semua pengorbanan yang berlandaskan niat ibadah lillah mengharapkan ridha Allah semata tidak akan pernah sia-sia. Harta yang kita keluarkan untuk perjuangan tidak akan hilang sia-sia. Allah akan mengganti dan memberi kita harta benda yang jauh lebih besar dan jauh lebih banyak. Tenaga, fikiran dan andaikata kita benar-benar mati karena kehendak Allah dalam menjalani perjuangan kita, maka yang mati adalah jasad kita, nama baik kita akan tetap hidup dan tetap disebut-sebut oleh para ahli waris perjuangan kita, nama kita akan harum dan kita akan tetap hidup di sisi Allah SWT.

           

            Kalaulah bukan karena kerelaan berkorban dari para pejuang terdahulu yang berperang mengusir penjajah dari negeri indonesia ini, tidaklah mungkin kita bisa menghirup udara kemerdekaan. Kalaulah bukan karena kerelaan berkorban seorang ibu untuk mengandung dan melahirkan antara hidup dan mati, tidaklah mungkin akan terlahir bayi yang lucu.

           

Dengan demikian maka kerelaan berkorban yang telah dicontohkan oleh Nabi Ibrahim as. tadi hendaknya kita terapkan pada semua aspek kehidupan kita. Harta, fikiran, tenaga dan bahkan nyawa kita relakan demi tercapainya cita-cita yang mulia. Demi  tercapainya tujuan hidup kita dalam menjalankan roda pendidikan, pengajaran, perekonomian, kehidupan sosial-budaya  dan sebagainya, agar tercipta suatu keadaan masyarakat yang adil dan makmur yang penuh dengan ampunan Allah SWT.