Hakikat Anak Dalam Alqur`an

Hakikat Anak Dalam Alqur`an

Penulis: Ustadzah Nadiyatul Wasiah, Pengajar QLC Kids dan Balita

Banyak istilah yang sering kita jumpai untuk menggambarkan kasih sayang orang tua terhadap anak, misalnya kalimat anak permata bunda, belahan jiwa, si jantung hati dan buah hati mama. Mengapa disebut permata, jantung dan buah hati, karena bagi orang tua anak adalah segala-galanya, bisa mengalahkan yang lain termasuk dirinya sendiri. Wajarlah kalau Rasulullah bersabda:

الولد ثمرة القلب  (رواه ابو يعلى)

Artinya:  “anak itu adalah buah hati”  (HR. Abu Ya’la) 

Hadist ini berarti sangat dalam, tergambar disana bahwa kehadiran anak bagi orang tua adalah sesuatu yang di tunggu-tunggu. Sebagai buah hati ia mampu menjadi daya pemikat yang kokoh dan perekat yang kuat dalam jalinan kasih sayang dan hubungan harmonis berumah tangga. Dengan kata lain, anak merupakan salah satu unsur yang sangat kuat untuk memperkokoh jalinan kemesraan dan kasih sayang antara suami istri.

Kalau ada barang atau perhiasan dunia yang paling berharga, itulah anak namanya, dia mengalahkan seluruh harta lainnya, dia diatas segala sesuatu yang dimiliki. Anak merupakan perhiasan kehidupan dunia yang menjadi kebanggaan orang tua. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an (QS. Al-Kahfi; 46): 

Artinya: “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan”.

 

Nabi melukiskan kepada kita bahwa dunia anak-anak seolah-olah kehidupan surga, penuh riang-gembira, keindahan fantasi. Sesuai sabda beliau:

Artinya:  “anak-anak itu bagaikan kupu-kupu surga

Orang tua akan merasa senang dan bahagia jika anaknya mendapat pujian dan disenangi oleh masyarakat lingkungannya. Dalam hadits lain disebutkan pula:

Artinya:  “anak itu rezeki dari surga” (HR. Al-Hakim) 

Sesungguhnya setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, tergantung kepada orang tua yang membentuknya. Mau dijadikan apa anak-anaknya kelak, ini mengindikasikan bahwa peran orang tua, lingkungan dan pendidikan yang ditanamkan kepad anaknya sangatlah besar dalam membentuk karakter dan watak si anak di masa depannya. Hal ini sebagaimana tergambar dalam sabda Rasulullah:

Artinya: “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menyebabkan ia menjadi Yahudi, Nasrani, dan Majusi”  (HR. Bukhari) 

Terkait dengan anak, Al-Qur`an mengingatkan, bahwa disampaing anak sebagai harapan, buah hati dan perhiasaan duniawi, anak juga merupakan fitnah, cobaan dan ujian. Dengan kehadiran anak itu Allah SWT mencoba dan menguji manusia dengan tanggung jawab untuk merawat, mengasuh dan mendidiknya sebagai generasi penerus agar mereka kelak menajdi insan yang taqwa kepad Allah, sehat jasmani dan rohani, cerdas dan terampil serta tanggap terhadap tantangan zamannya. Apakah orang tua mampu menunaikan tanggungjawab itu? Dalam hal ini Allah berfirman dalam Al-Qur`an (QS. At-Taghabun; 15)

 

Artinya: “Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar

 

Harapan orang tua terhadap anaknya tercermin dalam do`a dan sebagaimana digambarkan dalam Al-Qur`an (QS. Ali Imran: 35

 

Artinya: “Di sanalah Zakariya berdo`a kepada Tuhannya seraya berkata: "Ya Tuhanku, berilah Aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa".

 

Dalam surah lainnya, Al-Qur`an menggambarkan harapan orang tua terhadap masa depan anaknya sebagaimana digambarkan dalam do`a yang dilakukan oleh istri Imran dalam Al-Qur`an (QS. Ali-Imran: 35)

 

Artinya: “(ingatlah), ketika isteri 'Imran berkata: "Ya Tuhanku, Sesungguhnya Aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah (nazar) itu dari padaku. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui”

 

Kalau kita punya anak yang beriman dan bertaqwa, sehat jasmani dan rohani, cerdas dan terampil, berakhlak baik dan tanggap terhadap kehidupan sekelilingnya, maka itu mengisaratkan keberhasilan orang tua dalam merawat dan mengasuh serta mendidik anak-anaknya. Bila kita melihat hasil yang berlawanan (sebaliknya) maka hal ini mengisaratkan kekeliruan dan kesalahan rawatan, asuhan dan didikannya.

Itulah sebabnya, betapa pentingnya pengetahuan, pemahaman dan kesadaran orang tua dalam mengemban amanah Allah. Amanah yang luhur dan mulia, yaitu merawat, mengasuh, dan mendidik anak.  Dalam hal ini Allah menggambarkan pentingnya punya generasi yang tangguh dalam menghadapi segala rintangan dan tantangan zaman dengan firmannya dalam Al-Qur`an (QS. An-Nisa`: 9)

 

Artinya: “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar

 

Orang tua tidak saja punya kewajiban untuk mencetak generasi unggul sebagaimana diamanatkan oleh Al-Qur`an pada ayat di atas, akan tetapi lebih dari itu orang tua punya tanggungjawab untuk menjaga anak-anak mereka baik di kehidupan dunia bahkan sampai kehidupan akhirat, Allah mengamanatkan penjagaannya ini dalam Al-Qur`an (QS. At-Tahrim: 6)

 

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”

 

 

 

Walaupun ayat di atas lebih menekankan pada segi penjagaan diri dan keluarga dari api neraka yang berarti menyangkut kehidupan ukhrawi, bukan berarti tidak mempunyai tanggung jawab dalam kehidupan di dunia ini. Orang tua mempunyai tanggung jawab dan kewajiban untuk menjaga mereka, baik kehidupan jasmaninya, rohaninya dan mentalnya. Dalam hal ini Rasulullah bersabda:

كلكم راع وكلكم مسئول عن رعيته  (رواه البخاري ومسلم)

Artinya: “Setiap kamu adalah penanggung jawab dan akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipercayakan kepadamu