NABIKU YANG KUKENAL DAN KUCINTAI SHALLALLAHU ‘ALAYH WA SALLAM

NABIKU YANG KUKENAL DAN KUCINTAI SHALLALLAHU ‘ALAYH WA SALLAM

 

Penulis Ustadz Andi Rahman, SSI, MA. - Pengajar Quran Learning Centre

“Sesungguhnya
Allah dan para malaikat bershalawat kepada Nabi (Muhammad). Wahai orang-orang
yang beriman, bersahalawatlah dan bersalamlah kalian kepadanya” (QS. al-Ahzab:
56)
                Shalawat
yang diberikan Allah kepada Rasulullah adalah limpahan kasih sayang dengan
disertai penghormatan dari-Nya. Sementara shalawat dari malaikat artinya doa
dari mereka untuk kebaikan beliau. Kita, orang yang beriman diperintahkan,
bukan oleh Rasulullah tetapi oleh Allah, untuk membaca shalawat dan salam untuk
beliau: Ya Allah, kami memohon agar kiranya Engkau melimpahkan kasih sayang,
penghormatan-Mu, dan keselamatan kepada Rasulullah.
                Ada
banyak hikmah di balik peintah bershalawat ini. Salah satunya adalah wujud
cinta kita kapada Rasulullah, dan ungkapan syukur (terima kasih) karena beliau
menjadi “sebab” kita mengenal Allah dan memeroleh kabaikan di dunia dan di
akhirat.
Secara
kodrati, setiap manusia akan mencintai dirinya sendiri. Ia juga mencintai pasangan
hidupnya, keluarganya, dan harta kekayaan yang telah dimilikinya. Tidak ada
yang salah dengan cinta ini, karena Allah memang menghadirkan keindahan pada
hal-hal tersebut. Namun orang yang beriman tidak boleh mencintai sesuatu
melebihi cintanya kepada Allah dan kepada Rasulullah (QS. al-Tawbah ayat 24)
Umar bin
al-Khathab pernah menyatakan bahwa ia sangat mencintai Rasulullah melebihi
cintanya kepada segala sesuatu kecuali cintanya terhadap dirinya sendiri. “Laanta
ahabb ilayy min kull syay illa min nafsy”. Demikian ujar Umar.
                Rasulullah
menanggapi ucapan Umar ini, dengan menyatakan bahwa orang yang beriman akan
mencintai Rasulullah melebihi cintanya kepada dirinya sendiri.
Umar segera
merevisi ucapannya, “Engkau aku cintai melebihi cintaku terhadap apapun
termasuk terhadap diriku sendiri”. 
“Sekarang
telah sempurna imanmu, wahai Umar”. Tanggap Rasulullah (HR. al-Bukhari dari
Abdullah bin Hisyam)
Mengapa
Rasulullah sedemikian spesial sehingga wajib dicintai?
Dalam Alquran
banyak kita dapati bahwa segala kenikmatan itu ada di surga dengan tanpa
batasan (QS. al-Zukhruf ayat 71 dan Fushilat ayat 31). Perbandingan antara seluruh
kenikmatan yang ada di dunia dengan yang ada di akhirat adalah seperti setetes
air dibandingkan samudra raya (HR. Ibnu Majah dari al-Mustawrid). Surga dan
segala kenikmatan di dalamnya itu diharamkan bagi orang yang kafir (surah
al-A’raf ayat 50). Maka, terbebas dari kekafiran adalah kenikmatan yang jauh
lebih hebat dari segala kenikmatan yang ada di dunia ini. 
Siapa orang
yang menyelamatkan kita dari kekafiran? 
Jawabannya
adalah: Rasulullah! 
Maka pantaslah
kiranya beliau kita cintai melebihi cinta kita terhadap manusia manapun.
Rasulullah
adalah insan yang sempurna. Beliau adalah contoh ideal untuk diteladani (QS.
al-Ahzab ayat 21). Siapapun yang membaca sirah biografi beliau, pastilah ia
akan mencintainya. Tinggal kita introspeksi: Seberapa banyak pengetahuan kita
terhadap sosok manusia utama ini?
Alih-alih
mengenal Rasulullah, sebagian dari kita lebih akrab dengan tokoh-tokoh jagoan dalam
komik-komik “marvel” yang difilmkan di Holywood, padahal mereka fiktif dan sama
sekali tidak bisa menyelamatkan kita dari marabahaya (QS.Maryam ayat 42 dan
al-Anbiya ayat 66-67). Anak-anak kita hafal nama teletubies dan penghuni kota Bikini
Bottom namun tidak tahu nama anak-anak Rasulullah. Kaum remaja ternyata lebih
mengetahui striker tim-tim sepakbola liga Inggris (EPL) dari pada sepuluh
shahabat yang disebut dalam “hadis orang-orang yang dijamin masuk surga”
(al-‘Asyarah al-Mubasyarin bi al-jannah). Lagu-lagu dengan joget pengumbar
nafsu lebih sering disenandungkan dan ditonton dari pada tilawah Alquran,
lantunan shalawat, dan pengajian sirah nabi.
Tragis? Miris
hati ini rasanya…
Peringatan mawlid
nabi, dipahami sebagian orang sebagai perayaan dan kegembiraan kolektif berupa
pembacaan buku dan kitab bersajak tentang biografi Rasulullah, namun mereka
tidak paham apa yang dibaca. Bukan kekhusyuan yang didapat, malah jadi
keramaian dan kegaduhan yang kosong nilai. Orang yang membaca buku tanpa
memahami isinya, terkecuali bacaan Alquran, adalah seperti khimar atau keledai yang
membawa setumpuk buku di punuknya (QS. al-Jumuah ayat 5). 
Atas nama
syiar, peringatan mawlid dilaksanakan di atas panggung dengan mendatangkan
penyanyi-penyanyi top ibu kota. Ada sisipan ceramah di antara keriaan senandung
lagu-lagu, namun siapa yang mau mendengarkan ceramah Agama di tengah kerumunan
orang yang datang karena ingin berjoget? Bahkan penceramahnyapun ikut bernyanyi
dan berjoget. Ada juga ustadz seleb yang sudah mengeluarkan album kompilasi
lagu plus album shalawatan. Semua ini dilakukan atas nama syiar dan kecintaan
terhadap Rasulullah, atau komersialisasi Agama?
Entahlah…
Ada yang mencoba
lebih baik, dengan memeringati mawlid nabi di masjid. Orang-orang yang
menghadirinya diminta berpakaian berwarna putih agar enak di-shoot kamera. Pejabat
dan aparat pemerintahan dipersilahkan memberi sambutan, sambil disisipi
kampanye agar memilih dirinya atau partainya dalam pemilu dan pemilukada. Acaranya
dimulai jam 8 malam dan selesai jam 12 malam. Meletihkan dan melelahkan.
Sebagian dari mereka yang hadir akhirnya terlambat shalat shubuh akibat
kesiangan bangunnya. Bahkan masjid yang semalam dipenuhi jamaah yang
mendengarkan ceramah Agama, juga ikutan sepi. Sebab muadzin dan imamnya juga
terlambat bangun.
Kita wajib
bersyukur kepada Allah yang menyediakan kebahagiaan di dunia dan di akhirat,
juga kepada Rasulullah yang mengajarkan dan memberi keteladanan kepada kita
cara untuk memperoleh kebahagiaan itu. Caranya? Cintai Rasulullah, teladani
sikap dan perbuatan beliau, laksanakan perintahnya dan jauhi larangannya. Semua
ini menjadi mudah untuk dilakukan setelah kita mengenal dengan baik sosok nabi uswah  kita ini.
Dengan
bershalawat, kita mendoakan Rasulullah. Dalam sebuah hadis beliau bersabda,
“Siapa yang membaca shalawat satu kali, maka Allah memberinya ‘shalawa’ sepuluh
kali” (HR. Muslim dari Abu Hurayrah). Ini artinya, ketika kita hendak “memberi
satu kebaikan” kepada Rasulullah, beliau membalas pemberian itu dengan kebaikan
sepuluh kali lipatnya.
Terima kasih
wahai Rasulullah. kami mencintaimu. Shallallah ‘alayka wa sallam.