3 Perintah dan Larangan Allah SWT.

3 Perintah dan Larangan Allah SWT.

Ada 3 perintah Allah yang harus kita taati dan laksanakan dan ada 3 larangan Allah yang harus kita hindari dan tinggalkan. Semua itu berada dalam satu ayat al-Qur’an yang seringkali dibacakan oleh para Khotib Jumu’ah ketika menutup khutbah keduanya yaitu pada surat an-Nahl (16) ayat 90.

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) Berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran”.

Adil maknanya adalah wad’u syaiin fii mahallih, menempatkan sesuatu pada posisi dan proporsinya. Model perbuatan Adil ada 2 bentuk: adil kepada Allah sebagai Sang Maha Khalik (pencipta) dan Adil kepada Makhluk.  Seorang makhluk yang menyembah kepada Khalik (pencipt), beribadah kepada-Nya tidak berbuat musyrik maka makhluk itu bebuat adil kepada Allah. Segala Hak Allah sebagai Khalik harus dilaksanakan oleh makhluk, akan tetapi bukan berarti Allah butuh kepada makhluk. Walupun makhluk tidak menyembah dan beriabdah kepada-Nya Allah tetap Maha Pencipta, Maha Mulia, Maha Agung.

Bentuk adil makhluk kepada makhluknya yaitu melaksanakan hak-hak makhluk yang lainnya. Manusia menjaga kelestarian lingkungan dengan melakukan penghijauan, tidak melakukan pembakaran liar terhadap hutan, menjaga kebersihan diri dan lingkungan sekitar. Tidak menjadikan daerah resapan air sebagai pabrik dan perusahaan. Sehingga bisa meminimalisir dampak bencana yang terjadi seperti banjir, kebakaran hutan, erosi dan bencana alam lainnya. Manusia diperintahkan untuk berusaha dan Allah yang menentukan.

Seorang pemimpin yang menentukan kebijakan harus bisa adil kepada bawahan ataupun rakyat yang dipimpinnya. Mengayomi kepada yang lemah dan minoritas dan menghormati kepada kalangan mayoritas dan yang kuat.

Bahkan ketika berbuat adil pun harus tetap dilakukan kepada orang yang berbeda dan beragam misalnya. Seorang bijak bestari mengatakan: Janganlah kebencian kepada seseorang atau kelompok lain menyebabkan kita tidak berbuat adil kepadanya.

Perbuatan kedua yang diperintahkan oleh Allah dalam ayat diatas adalah al-Ihsan maknanya berbuat baik. Imam Al-Maraghi dalam tafsirnya menuliskan bahwa al-Ihsan menurut Nabi Isa yaitu melakukan perbuatan baik kepada orang yang berbuat jahat, bukan hanya berbuat baik kepada orang yang berbuat baik. Memberikan shadaqoh, bingkisan, uang atau yang lain sebagainya kepada orang yang berbuat baik kepada kita merupakan suatu hal yang biasa, tetapi memberikan shadaqoh, bingkisan, uang atau yang lainnya kepada orang yang berbuat jelek, berbuat jahat kepada kita merupakan suatu hal yang luar biasa.

Pengertian al-Ihsan yang lainnya adalah sebagaimana diceritakan dalam sebuah hadis ketika Rasulullah ditanya mengenai al-Ihsan, lalu Rasulullah menjawab: an ta’budallahu kaannaka taroohu failam takun tarohu fainnahu yarooka (kamu beribadah kepada Allah seakan akan kamu melihat-Nya, kalau kamu tidak mampu melihat-Nya. kamu merasa seakan-akan dilihat oleh-Nya.

Sehingga dari perbuatan baik ini berhubungan dengan keikhlasan. Menurut manusia terlihat seseorang melakukan perbautan baik, rajin beribadah kepada Allah, bersedakah tidak mengenal batas. Tetapi pandangan Allah diukur oleh rasa keihlasan seseorang. Tidak ada yang mampu mengukur keikhlasan seseorang kecuali dirinya dan Allah yang mengetahui.

Perbuatan ketika yang diperintahkan oleh Allah dalam surat an-Nahl ayat 90 diatas adalah wa iitaizil Qurba (membantu kerabat). Keharmonisan suatu masyarakat atau negara dibangun dari tingkat yang kecil yaitu kerabat atau keluarga. Ketika seluruh keluarga di negara kita ini, saling berbuat baik, membantu sesama hidup dalam kedamaian tidak ada permusuhan maka negara kita pun akan selalu damai dan tentram. Terciptanya membantu kerabat, dengan suatu perbuatan yang dinamakan silaturrahmi. Bagaimana kita bisa tahu kerabat, tetangga, saudara kita yang sedang sakit ataupun kesusahan kalau kita tidak mendatanginya. Bagaimana pemimpin bisa tahu masyarakatnya ada yang kelaparan, kekurangan makanan pokok kalau pemimpin itu tidak mendatangi rakyatnya. Islam telah mengajarkan sejak dulu blusukan, tuba (turun ke bawah) yaitu dengan Istilah Silaturrahmi. Ketika seorang bersilaturrahmi kepada orang lain, yang tercipta bukan hanya sekedar kunjungan tetapi ada kedekatan emosional sehingga bisa mempererat tali persaudaraan. Terlebih lagi bisa membantu segala permasalahan.

Silaturahmi bukan saja ketika ada keperluan atau kebutuhan, silaturahmi tidak terbatas hanya ada kepentingan sehingga menjadi pencitraan. Lebih dari itu dan bakan bukan hanya sekedar tujuan demikian. Silaturahmi bisa menciptakan kedamaian dan keterbukaan.

Kemudian Allah melarang 3 perbuatan dalam surat an-Nahl ayat 90 diatas dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan.

Perbuatan Fakhsya atau keji yaitu perbuatan baik berhubungan dengan perkataan yang jelek maupun prilaku yang tidak bermoral sehingga menimbulkan kemaksiatan. Memfitnah, mengadu-ngadu, mencemoohkan, mencuri, berzina, minum-minuman keras, narkoba, korupsi termasuk perbuatan Fakhsya atu keji yang harus kita hindari.

Selanjutnya Allah melarang juga perbuatan kemungkaran. Kemungkaran berawal dari tidak terkendalinya akal sehingga nafsu mengalahkannya. Misalnya saja pemukulan, pembunuhan, pemerkosaan ataupun yang lainnya.

Yang terakhir adalah perbuatan permusuhan (al-Baghyu) kesewenang-wenangan yang harus dijauhkan dan ditinggalkan. Orang yang menciptakan permusuhan berawal dari kesalah pahaman dan tidak dipecahkan. Sehingga beranggapan kesalahan satu dengan yang lainnya, solusi nya adalah dilaksanakan dengan seringnya bersilaturahmi dan pertemuan yang dapat memecahkan persoalan.