Memeluk Cobaan dengan Kesabaran

Memeluk Cobaan dengan Kesabaran

Memeluk Cobaan dengan Kesabaran

Oleh : Isna Ulya

            Baik-buruk dalam kehidupan dunia yang kita jalani tentu saja selalu ada. Dua hal tersebut selalu beriringan sebagai pengingat kita bahwa apa yang kita inginkan tidak selalu terwujud dengan mudah. Apa yang menurut kita baik dan pantas dicapai, belum tentu baik di mata Allah swt. Begitu juga sebaliknya, apa yang menjadi cobaan pun musibah dari-Nya pada kita, pasti terdapat hikmah yang tidak kita ketahui tanpa melalui sikap sabar. Rasulullah SAW telah mengajarkan kita untuk mengiringi usaha dengan doa. Segala upaya pencapaian suatu keinginan hendaknya juga diiringi dengan bersabar. Sekiranya orang yang sabar ditimpa musibah, mereka akan berkata bahwa dirinya serta seluruh kehidupannya dimiliki Allah swt.

Pahala tanpa batas dijanjikan Allah SWT kepada orang yang bersabar. Sebagaimana firmanNya dalam surat al-Baqarah ayat 155,

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar”.

Juga dalam surat az-Zumar ayat 10,

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Sesungguhnya hanya orang-orang sabar yang dipenuhi pahalanya tanpa batas”.

            Kualitas kesabaran seseorang akan terus diuji sepanjang kehidupan di dunia. Tingkat kesabaran akan menjadi pembeda antara orang satu dengan lainnya. Buah dari kesabaran adalah ketentraman dan rasa nrima ing pandum dalam menerima peristiwa hidup.

Perintah bersabar ditegaskan dalam firman Allah SWT. surat Ali Imran ayat 200:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung”.

Ujian pun cobaan yang dilandasi sikap sabar senantiasa akan selalu mudah untuk dijalani, meski cobaan tersebut harus kita lalui dengan susah payah. Karena pada dasarnya manusia diciptakan Allah dalam keadaan susah payah. Allah swt berfirman dalam ayat ke-4 surat al-Balad,

لَقَدْ خَلَقْنَا الإِنْسَانَ فِي كَبَدٍ

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah”.

            Selalu ingatlah, bahwa bahagia dan kesedihan menjadi sebuah cobaan yang menentukan kadar keimanan seseorang. Keburukan dan kebaikan dalam kehidupan manusia adalah semata-mata cobaan dariNya. Sebagaimana firman Allah SWT. dalam surat al-Anbiya’ ayat 35,

وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

“Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan”.

Imbalan yang dijanjikan Allah SWT kepada orang yang bersabar juga berupa keterlepasan dari musibah, adanya pertolongan dan kemenangan dari Allah SWT. Hal itu tentu sangat dipengaruhi oleh sebuah kualitas keyakinan dan keimanan. Semakin tinggi kualitas keimanan seseorang terhadap janji-janji Allah, semakin mudah pula dilakukan perilaku sabar dan tawakkal padaNya.

            Dalam sebuah hadis diceritakan, sahabat Anas bin Malik pernah menuturkan bahwa Rasulullah SAW. pernah melewati seorang wanita yang sedang menangisi kematian anaknya. Beliau berkata padanya, “Takutlah kepada Allah dan bersabarlah”. Ia menjawab, “Engkau tidak merasakan musibah yang aku alami”. Ketika Rasulullah sudah berlalu dari situ, barulah ada sahabat yang berujar kepada wanita itu bahwa orang yang barusan menasehatinya adalah Rasulullah saw. Alangkah terkejutnya wanita itu mendengar hal tersebut. Dengan terburu-buru dia pergi ke rumah Rasulullah dan berdiri di ambang pintunya. Dia berkata, “Wahai Rasulullah, aku tadi tidak mengenalmu! Sekarang aku sabar”. Rasulullah bersabda, “Kesabaran itu berlaku pada awal musibah”. (HR. Bukhari-Muslim)

            Sikap sabar yang kita perankan di dunia akan berimplikasi bagi pelakunya baik di dunia maupun di akhirat. Sebaliknya, perilaku buruk dan jahat pun akan berdampak buruk bagi pelakunya di dunia dan akhirat.

Dalam surat al-Ankabut ayat 58-59,

وَالَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَنُبَوِّئَنَّهُمْ مِنَ الْجَنَّةِ غُرَفًا تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا نِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ، الَّذِينَ صَبَرُوا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

“Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh sesungguhnya akan Kami tempatkan mereka pada tempat-tempat yang tinggi di dalam surga, yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya. Itulah sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang beramal. (Yaitu) yang bersabar dan bertawakkal pada Tuhannya”.

            Karenanya, seburuk apapun cobaan dan penderitaan yang kita dapatkan di dunia, hadapi dan selesaikanlah dengan kesabaran dan doa. Karena salah satu cara terbaik mengatasi masalah adalah dengan menjalani masalah tersebut dengan lapang hati. Menyesal dan menghujat takdir bukanlah sebuah jalan menyelesaikannya, dan bukan pula ciri orang yang tawakkal. Bila Allah mengambil kembali kenikmatan yang sedang kita miliki, hal itu semata bukan karena Allah membenci kita. Tapi agar kita bisa menyaksikan hikmah dalam qudrahNya, rahmat dalam keperkasaanNya, dan kelembutan dalam paksaanNya. Bahkan bila Allah menahan kita untuk mendapatkan sesuatu, itu bukan karena Dia bakhil atau menyembunyikan hak kita, tapi Allah ingin kita kaya dengan faqir di hadapanNya. Dan janji Allah telah jelas bagi siapa saja yang bersabar dan berserah diri berdasarkan taqwa, Allah sekali-kali tidak pernah memungkiri janjiNya.

وَعْدَ اللَّهِ لَا يُخْلِفُ اللَّهُ الْمِيعَادَ

“Allah telah berjanji dengan sebenar-benarnya, Allah tidak akan mengingkari janjiNya”. (az-Zumar : 20)